Data Analog dalam Transmisi Data Analog dan Digital

Data Analog dalam Transmisi Data Analog dan Digital

Citra Ayu Madasari / 085514047 / S1 Elkom 1 2008

Analog data menerima nilai yang terulang secara terus-menerus dan kontinu dalam beberapa interval. Sebagai contoh, suara dan video mengubah pola-pola intensitas secara terus-menerus. Digital data menerima nilai-nilai yang berlainan, misalnya teks dan bilangan bulat.

Contoh yang paling dikenal dari analog data adalah audio, di mana, dalam bentuk gelombang suara akustik, dapat dirasakan manusia secara langsung. Gambar 3.9 menunjukkan spektrum akustik untuk percakapan manusia dan untuk musik. Frekuensi percakapan-percakapan biasa bisa ditemukan berkisar antara 100 Hz dan 7 kHz. Meskipun sebagian besar energi percakapan ini terpusat pada frekuensi yang lebih rendah, dari uji coba yang dilakukan menunjukkan bahwa frekuensi bisa mencapai 600 sampai 700 Hz, sedikit menambah kejelasan percakapan tersebut sehingga dapat diterima telinga manusia.


Percakapan biasa memiliki rentang dinamik (dynamic range) sebesar kira-kira 25 dB, yaitu, kekuatan yang dihasilkan teriakan terkeras kemungkinan bisa mencapai 300 kali lebih besar dari bisikan terlemah.

Contoh umum lainnya mengenai analog data adalah video. Di sini lebih mudah untuk mengkarakteristikkan data dipandang dari segi penonton (tujuan) layar TV dibandingkan dengan adegan aslinya (sumber) yang direkam oleh kamera TV. Untuk menghasilkan sebuah gambar pada layar, sebuah sinar elektron (electron beam) pemayar (scan) melalui permukaan layar dari kiri ke kanan serta dari atas ke bawah. Untuk televisi hitam-putih, jumlah iluminasi (ilumination) yang dihasilkan (di atas skala dari hitam ke putih) pada beberapa titik sebanding dengan intensitas sinar saat melintasi sinar tersebut. Jadi dalam waktu tertentu sinar yang menerima nilai intensitas analog untuk menghasilkan kecerahan (brightness) yang diinginkan pada titik tersebut di atas layar. Lebih jauh, ketika sinar memayar, nilai analog berubah. Jadi image video dapat dimaksudkan sebagai sinyal analog tergantung pada waktu.


Gambar 3.10a menggambarkan proses pemayaran.di setiap akhir jalur pemayaran (scan line), sinar diarahkan kembali dengan cepat ke kiri (garis horizontal). Saat sinar mencapai bagian bawah, dengan cepat diarahkan kembali ke atas (garis vertikal). Sinar dipadamkan (dihilangkan) sepanjang interval garis.

Untuk mencapai resolusi yang memuaskan, sinar memproduksi sejumlah 483 garis horisontal dengan rate sebesar 30 layar per detik. Dari uji coba yang dilakukan menunjukkan bahwa rate ini akan menghasilkan suatu sensasi kerlipan (a sensation of flicker) dan bukannya gerakan pelan (slow motion). Bagimanapun juga, kerlipan dieleminasikan melaui suatu proses penjalinan (interlacing), seperti digambarkan pada Gambar 3.10b. Sinar elektron melakukan melakukan scan sepanjang layar, bermula dari ujung kiri dekat sekali dengan bagian atas. Sinar mencapai pertengahan garis terendah layar setelah 241.5 baris. Pada titik ini, dengan cepat sinar ditempatkan kembali ke bagian atas layar dan mulai lagi di pertengahan garis yang paling atas dari layar yang dapat dilihat untuk menghasilkan 241.5 baris yang terjalin dengan himbunan asli. Jadi layar di-refres 60 kali per detik dan bukannya 30, serta kerlipan dihindari.

Sumber:
Stallings, William. 2001. Komunikasi Data dan Komputer. Jakarta: Salemba teknika

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by ELKOM UNESA Themes | Bloggerized by ELKOM UNESA - Premium Blogger Themes | Dibangun untuk kepentingan bersama